Search This Blog

Thursday, October 21, 2010

SEBAIT KEJUJURAN DI DALAM ASA

Lirih kusebut namamu ...
Chandra ...
Chandra!!!
Tetapi demikian di dalam hatiku berteriak
Sebening embun
Gemintang pun tertunduk oleh senyummu
Porak-poranda benteng angkuhku
Yang sekian lama kubangun
Dengan kebekuan jiwa
Kau
Datang dengan seulas senyum
Sepatah tutur
Bertabir sejuta misterimu
Apakah kau akan datang
Di dalam lembutnya kasih
Yang akan menyalakan bara di dadaku
Jawabnya ada di titik-titik embun
Yang berkilau di pucuk-pucuk rerumputan
Kini izinkan aku dendangkan lagi
Sebait tembang kasmaranku
Lelapkanlah dirimu di dalam rengkuhanku


Larantuka, 12 Desember 1992
Antonny Gersang

KIDUNG BUAT CLARENTIA (9)

Kupungkasi sudah kini
Pencarian panjang
Penantian menegangkan
Penelusuran tiada berujung
Menghilang tanpa bekas
Kemana lagi hendak kucari dirimu?
Jiwa hampa
Hati penuh luka
Bukan olehmu
Tetapi karena ketidakpastian yang mencengkeramku hingga kini
Jika kemudian aku berhenti di sini
Bukan karena sayapku telah patah
Bukan juga karena lelah
Tetapi karena aku ingin menyimpan semua ini
Membiarkannya hingga memfosil di kedalaman batinku
Aku berhenti di sini
Tetapi tidak mati
Bara ini pasti akan tetap menyala
Hingga relung gunung-gunung tak lagi menghadirkan cahya surya pagi
Kusimpan namamu sebagai prasasti abadi


Tangerang, 31Desember 1994
Antonny Gersang

KIDUNG BUAT CLARENTIA (8)

Izinkan kubelai legam rambutmu
Dengan kidungku
Izinkan kukecup bening bola matamu
Dengan syairku
Biarkan kukenang dirimu dalam nada dan kata
Katakan: Boleh!
Katakan: Ya!
Maka aku pun damai


Larantuka, 24 Oktober 1992
Antonny Gersang

HUT ke-17 Maria Clarentia Meilinda
24 Oktober 1975~24 Oktober 1992

KIDUNG BUAT CLARENTIA (7)

Setangkai bunga mekar hari ini
Begitu indah
Meski nun jauh di sana
Harummu sampai di sini jua
Memenuhi seluruh ruang batinku
Bila dapat
Ingin kupetik dan kutanam di hatiku
Kujadikan hidupku ladang tempatmu tumbuh dan berkembang
Bila dapat
Kuingin memilikimu
Selamanya
Kan kusimpan bersama semerbaknya dupa
Larut bersama merdunya kekidungan suci
TUHAN
Dia begitu indah
Maka jangan KAU biarkan duka dan kesedihan menyentuhnya
Maka jangan KAU biarkan angin dan hujan menggoyahkannya
Maka jangan KAU biarkan pula kumbang-kumbang melayukan keanggunannya
TUHAN
Dia begitu indah
Maka siramilah dia dengan kasih dan damai-Mu
Agar senantiasa berseri warnanya
Agar mengembang pesonanya
Taburi dia dengan pupuk sabda-Mu
Hingga jadilah dia subur dan tegar
Memandang tegak dalam mengarungi hidup
Dan
Jika bisa TUHAN
Satukanlah kami di dalam terang kasih-Mu
Jika masih bisa, TUHAN


Larantuka, 24 Oktober 1992
Antonny Gersang

HUT ke-17 Maria Clarentia Meilinda
24 Oktober 1975 ~ 24 Oktober 1992

KIDUNG BUAT CLARENTIA (6)

Selamat malam kasih
Dengan lembut kusebut namamu
Di dalam doa malamku
Tidurlah dalam damai
Selamat malam kasih
Itu yang kuingin kau ucapkan
Sebelum terpejam matamu
Selamat malam kasih
Izinkan Kuhadirkan dirimu
Di dalam mimpiku malam ini

Larantuka, 29 September 1992
Antonny Gersang

KIDUNG BUAT CLARENTIA (5)

(Di Sana Kutinggalkan Sepotong Hati)

Di sana
Yang ada tinggallah angan
Tertulis di dalam sanubari ini
Sampai aku pergi
Di sana
Telah kutuliskan kisah hakiki
Tentang hidup, dan asmara, dan kasih
Meskipun kini tinggal kenangan
Di sana
Satu yang bukan angan
Satu nama yang bermakna
Nama yang kupancangkan di puncak bebukitan
Saat kusenandungkan kidung kasmaran
Pada Sang Dewi Malamku
Di sanalah pula
Kutinggalkan hatiku
Ya, hanya sepotong
Untukmu
Isi dan simpan di jiwamu
Agar bukanlah mimpi belaka
Tembang rinduku padamu

Larantuka, 29 September 1992
Antonny Gersang

KIDUNG BUAT CLARENTIA (4)

Kunanti engkau di batas hari
Hingga petang menjelang
Tak kupedulikan gelombang menentang
Tak kupedulikan karang menantang
Tak kupedulikan malamkelam
Biarpun pasir menelanku
Biarpun angin mengulumku
Aku akan tetap berdiri di sini
Di atas hamparan pasir
Di atas tajamnya karang
Di atas ombak
Di atas tonggak dan tombak
Yang telahkupancangkan
Aku tetap di sini
Berdiri di ambang hari
Berpijak di gerbang hati
Sampai nanti saat dirimu datang
Kunanti engkau di batas hari
Hingga nafasku terhenti

Larantuka, 14 September 1992
Antonny Gersang